Sumber foto: mediaindonesia.com
Pernahkah kamu membayangkan bagaimana manusia pertama kali berkomunikasi sebelum mengenali kata-kata? Ternyata, hingga saat ini para ilmuwan masih belum mengetahui secara pasti kapan bahasa lisan pertama kali muncul. Namun, salah satu teori yang banyak dibahas menyebutkan bahwa manusia purba kemungkinan lebih dahulu berkomunikasi menggunakan gerakan tangan dan tubuh sebelum akhirnya mampu berbicara.
Menurut Carmelo M. Vicario (2013) dalam jurnal FOXP2 Gene and Language Development: The Molecular Substrate of the Gestural-Origin Theory of Speech?, teori tersebut dikenal sebagai Gestural Origin of Language. Teori tersebut menjelaskan bahwa bahasa manusia diduga berkembang dari sistem komunikasi dengan gestur.
Mari kita cari tahu lebih lanjut tentang teori ini.
Apa itu Gestural Origin of Language Theory?
Gestural Origin of Language Theory adalah teori yang menyatakan bahwa bahasa manusia pertama kali berkembang melalui komunikasi menggunakan gestur tangan, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh, sebelum akhirnya berevolusi menjadi bahasa lisan seperti yang digunakan saat ini.
Menurut teori ini, nenek moyang manusia kemungkinan lebih dahulu menggunakan gerakan tangan untuk menyampaikan maksud tertentu, misalnya menunjukkan arah, meminta sesuatu, memperingatkan bahaya, atau bekerja sama saat berburu. Seiring berkembangnya kemampuan otak dan alat vokal, komunikasi tersebut perlahan berubah menjadi sistem bahasa yang menggunakan suara.
Sederhananya:
Gestur → Komunikasi Simbolik → Bahasa Lisan
Mengapa Gestur Dianggap Lebih Dahulu?
Para pendukung teori ini memiliki beberapa alasan ilmiah yang cukup kuat.
1. Primata Lebih Mudah Mengendalikan Tangan daripada Suara
Penelitian terhadap simpanse, bonobo, dan gorila menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan vokal yang relatif terbatas. Sebaliknya, mereka mampu menggunakan berbagai gerakan tangan secara sadar untuk berkomunikasi.
Misalnya, simpanse dapat:
➔ menunjuk objek,
➔ mengajak bermain,
➔ meminta makanan,
➔ memberi isyarat berhenti,
➔ menunjukkan arah.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem komunikasi berbasis gestur sudah berkembang sebelum kemampuan berbicara muncul.
2. Gestur Bersifat Fleksibel
Gerakan tangan mampu menggambarkan sesuatu secara visual.
Contohnya:
➔ menunjuk pohon,
➔ memperagakan cara melempar tombak,
➔ menunjukkan ukuran ikan,
➔ memberi tanda bahaya.
Komunikasi seperti ini jauh lebih mudah dipahami dibandingkan suara yang belum memiliki arti tertentu.
3. Otak Menghubungkan Gerakan dan Bahasa
Penelitian neurosains menemukan bahwa area otak yang mengatur gerakan tangan memiliki hubungan erat dengan area yang mengatur bahasa.
Salah satu contohnya adalah Area Broca, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam produksi bahasa. Area ini juga aktif ketika seseorang melakukan gerakan tangan yang kompleks.
Temuan ini menunjukkan kemungkinan bahwa kemampuan bahasa berkembang dari sistem saraf yang awalnya digunakan untuk mengendalikan tindakan dan gestur.
Kritik terhadap Teori Gestural
Meskipun cukup kuat, teori ini juga memiliki beberapa kelemahan.
1. Gestur Membutuhkan Kontak Visual
Gestur hanya dapat dipahami jika kedua pihak saling melihat.
Sementara bahasa lisan dapat digunakan:
➔ dalam gelap,
➔ dari kejauhan,
➔ ketika tangan sedang digunakan untuk membawa barang atau berburu.
2. Tidak Ada Bukti Fosil
Karena gestur tidak meninggalkan jejak dalam fosil, para ilmuwan tidak dapat membuktikan secara langsung bahwa manusia purba benar-benar menggunakan sistem komunikasi berbasis gestur.
3. Ada Teori Lain
Selain teori gestural, terdapat beberapa teori asal-usul bahasa lainnya, seperti:
➔ Vocal Origin Theory, yang menyatakan bahasa berkembang langsung dari suara.
➔ Multimodal Theory, yang berpendapat bahwa bahasa sejak awal berkembang melalui kombinasi suara, gestur, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh.
Saat ini, banyak peneliti cenderung mendukung pendekatan multimodal, karena dianggap lebih mampu menjelaskan kompleksitas evolusi komunikasi manusia.
Kesimpulan
Teori Gestural Origin of Language menawarkan pandangan bahwa bahasa manusia kemungkinan besar berawal dari gerakan tangan dan gestur tubuh, sebelum berkembang menjadi bahasa lisan. Teori ini didukung oleh penelitian tentang perilaku primata, perkembangan bayi, bahasa isyarat, dan hubungan antara sistem motorik serta bahasa di otak manusia. Meskipun belum dapat dibuktikan secara pasti, teori ini menjadi salah satu penjelasan paling berpengaruh mengenai asal-usul bahasa. Di sisi lain, sebagian ilmuwan berpendapat bahwa bahasa kemungkinan tidak berkembang hanya dari gestur, melainkan melalui kombinasi gestur, vokalisasi, dan ekspresi wajah. Oleh karena itu, hingga saat ini asal-usul bahasa masih menjadi salah satu misteri terbesar dalam kajian linguistik dan evolusi manusia.
Referensi
1. Michael C. Corballis. (2002). From Hand to Mouth: The Origins of Language. Princeton University Press.
2. David McNeill. (1992). Hand and Mind: What Gestures Reveal about Thought. University of Chicago Press.
3. Adam Kendon. (2004). Gesture: Visible Action as Utterance. Cambridge University Press.
4. Michael Tomasello. (2008). Origins of Human Communication. MIT Press.
5. Susan Goldin-Meadow. (2003). Hearing Gesture: How Our Hands Help Us Think. Harvard University Press.
6. Michael A. Arbib. (2012). How the Brain Got Language: The Mirror System Hypothesis. Oxford University Press.
7. Terrence W. Deacon. (1997). The Symbolic Species: The Co-evolution of Language and the Brain. W. W. Norton & Company.
8. William C. Stokoe. (1960). Sign Language Structure: An Outline of the Visual Communication Systems of the American Deaf. University of Buffalo.
Tim Liputan:
Diyan
Agil
Redaktur Pelaksana:
Layla
Pimpinan Redaksi:
Kayla

Komentar
Posting Komentar