Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Semakin Ditinggalkan

 

Foto: edukasi.sindonews.com

Bahasa Indonesia sering kali dianggap sebagai bahasa yang mudah digunakan sehingga sebagian masyarakat kurang memperhatikan kaidah penggunaannya. Faktanya, dalam kehidupan sehari-hari masih banyak ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah maupun penempatannya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat umum, tetapi juga di sekolah dan perguruan tinggi. Akibatnya, penggunaan bahasa yang baik dan benar sering kali terabaikan, terutama dalam situasi yang sebenarnya menuntut komunikasi yang lebih formal.

Perkembangan media sosial dan komunikasi digital turut memengaruhi cara masyarakat berbahasa. Dilansir dari Jurnal Multidisiplin Dehasen, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai mengalami pergeseran akibat semakin maraknya penggunaan bahasa gaul dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa gaul dianggap lebih santai, akrab, dan mampu mengikuti perkembangan tren yang populer di kalangan generasi muda.

Menurut Abdul Chaer, penggunaan bahasa yang baik berarti menyesuaikan bahasa dengan situasi dan lawan bicara, sedangkan penggunaan bahasa yang benar berarti sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak selalu berarti harus kaku, melainkan harus tepat sesuai konteks komunikasi. Contohnya dapat ditemukan dalam penggunaan istilah asing yang sebenarnya telah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Kata-kata seperti download, upload, dan meeting masih sering digunakan dalam kegiatan resmi, padahal telah tersedia padanan kata "unduh", "unggah", dan "rapat". Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, penggunaan padanan istilah bahasa Indonesia dalam komunikasi formal merupakan salah satu upaya untuk memperkuat fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara sekaligus menjaga kedaulatan bahasa di tengah perkembangan global.

Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah penggunaan bahasa yang mengandung unsur pelecehan verbal, ejekan, maupun perundungan yang sering kali dianggap sebagai candaan. Dalam praktiknya, tidak sedikit ungkapan yang merendahkan kondisi fisik, gender, maupun latar belakang seseorang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Padahal, bahasa memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan lingkungan sosial yang sehat. Ketika bentuk-bentuk ujaran tersebut dinormalisasi, dampaknya dapat memengaruhi kenyamanan serta kesehatan psikologis individu yang menjadi sasaran.

Dalam konteks pendidikan, guru dan dosen memiliki tanggung jawab besar sebagai teladan dalam berkomunikasi. Cara seorang pendidik berbicara tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian materi, tetapi juga menjadi contoh yang akan ditiru oleh peserta didik. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang santun, jelas, dan sesuai konteks perlu dibiasakan dalam lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi.

Upaya menjaga penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh berbagai pihak. Lingkungan keluarga, sekolah, kampus, hingga media massa memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan berbahasa yang tepat. Peningkatan literasi melalui kegiatan membaca dan menulis juga dapat membantu masyarakat memperkaya kosakata serta memahami penggunaan bahasa sesuai kaidah. Pada akhirnya, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukanlah tanda seseorang ketinggalan zaman, melainkan cerminan kecakapan berpikir, kesantunan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga identitas nasional yang perlu dijaga dan digunakan secara bijak di tengah perkembangan zaman.

Penulis:
1. Hamdah Siti Hamsanah Fitriani
2. Hayatun Nufus

Redaktur Pelaksana:
Layla

Pimpinan Redaksi:
Kayla 

Komentar