(Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Tangerang - Upaya pencarian intensif terhadap rombongan lima jurnalis nasional dan tiga kru kapal cepat Arupadhatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9/2026) akhirnya menemui titik terang. Penemuan sesosok jenazah di pesisir Bengkulu menjadi petunjuk krusial dalam menguak tabir hilangnya kapal tersebut saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri resmi mengonfirmasi bahwa jenazah pria tanpa identitas yang ditemukan terdampar di pesisir Pulau Enggano, Bengkulu Utara, adalah Surakman (60), yang bertugas sebagai anak buah kapal (ABK) armada tersebut.
Menurut laporan berkala dari Kanal Berita Detikcom, kepastian identitas Surakman diperoleh setelah tim medis forensik melakukan pencocokan profil genetika secara mendalam. Sampel biologis postmortem dari jenazah dicocokkan dengan data sampel antemortem yang diambil dari putra kandung korban. Kapolda Banten, Irjen Pol. Hengki, menyatakan bahwa proses pengujian laboratorium tersebut memerlukan ketelitian tingkat tinggi untuk memastikan kejelasan identifikasi biologis sebelum diumumkan secara terbuka.
Berdasarkan analisis pemodelan trajektori partikel laut yang dirilis oleh Pusat Riset Kelautan BRIN, jasad korban dilaporkan hanyut sejauh 345 hingga 380 kilometer dari titik terakhir kapal terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Selat Sunda. Peneliti utama BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, memaparkan bahwa selama periode 7 hingga 22 September 2026, kombinasi dinamika angin barat daya dan arus permukaan Samudra Hindia menciptakan dorongan hidrodinamika yang sangat kuat. Faktor gelombang laut ekstrem setinggi 2,5 hingga 4 meter di kawasan itu mempercepat laju hanyut objek hingga masuk ke dalam koridor arus pantai Sumatera ke arah barat laut.
Surakman, yang merupakan warga asli Carita, Kabupaten Pandeglang, dikenal luas oleh masyarakat setempat sebagai pelaut senior yang tangguh. Dirinya tercatat telah puluhan tahun mengarungi kawasan perairan aktif Selat Sunda dan sangat familier dengan karakteristik gelombang di seputaran Gunung Anak Krakatau. Penemuan jasadnya di tempat yang sangat jauh dari lokasi awal hilangnya kapal mengejutkan banyak pihak, sekaligus menggambarkan betapa ganasnya cuaca dan arus laut saat tragedi itu terjadi.
Ditemukannya jasad Surakman menjadi satu-satunya petunjuk fisik yang berhasil didapatkan oleh pihak berwenang sejauh ini. Operasi pencarian gabungan taktis skala besar yang dipimpin oleh Basarnas sebelumnya telah resmi ditutup pada Kamis (17/9/2026) setelah menyisir wilayah Selat Sunda selama sepuluh hari berturut-turut tanpa hasil. Kendati demikian, penemuan di Pulau Enggano ini membuka lembaran baru dalam memetakan area perluasan pemantauan bagi tim penyelamat.
Merujuk pada publikasi Koran Digital CNN Indonesia, pihak keluarga jurnalis yang hilang bersama perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) sempat melaksanakan prosesi tabur bunga di perairan Selat Sunda. Isak tangis haru mewarnai penghormatan terakhir tersebut, seraya memanjatkan doa bersama agar seluruh korban dapat segera ditemukan. Mereka juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas gugurnya Surakman dalam menjalankan tugasnya mengantar rombongan liputan.
Saat ini, jajaran Polairud Polda Banten tengah berkoordinasi secara intensif dengan otoritas kepolisian dan Pemerintah Daerah Bengkulu Utara untuk memfasilitasi proses penjemputan. Jenazah Surakman dijadwalkan akan segera dipulangkan melalui jalur udara menuju rumah duka di Carita, Pandeglang, guna menjalani prosesi pemakaman secara layak oleh pihak keluarga.
Meskipun operasi terpusat telah berakhir, kepolisian menegaskan bahwa pemantauan acak terhadap lima jurnalis dan dua kru kapal lainnya yang masih hilang tetap akan dioptimalkan. Jalur patroli navigasi berkala yang dilewati oleh kapal-kapal dinas Polairud dan TNI Angkatan Laut di sepanjang koridor perairan Selat Sunda hingga Samudra Hindia bagian barat Sumatera akan terus diinstruksikan untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda keberadaan korban lainnya.
Penulis:
Tasha
Pimpinan Redaksi:
Kayla
Redaktur Pelaksana:
Layla

Komentar
Posting Komentar